• Nasional

AS "Remehkan" Sanksi China soal Penjualan Rudal ke Taiwan

Syafira | Kamis, 29/10/2020 07:09 WIB
AS "Remehkan" Sanksi China soal Penjualan Rudal ke Taiwan Foto ini diambil pada 05 Februari 2013, tentara AS melakukan pengecekan sistem rudal Patriot di pangkalan militer Turki di Gaziantep. (Foto: AFP)

Washington, beritakaltara.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) "meremehkan" ancaman China untuk menghukum perusahaan AS karena menjual senjata ke Taiwan. Menurutnya, Beijing bukan Washington, yang membahayakan stabilitas regional.

Awal pekan ini, China mengatakan akan menjatuhkan sanksi pada Lockheed Martin dan divisi pertahanan Boeing yang merupakan bagian dari penjualan rudal baru ke Taiwan senilai hampir US$2 miliar atau sekitar Rp29 triliun.

"Ini bukan pertama kalinya Beijing mengancam memberikan sanksi kepada perusahaan-perusahaan AS," kata R Clarke Cooper, pejabat tinggi Departemen Luar Negeri yang bertanggung jawab atas penjualan senjata.

"Ada ancaman dan ada provokasi tentang itu," katanya kepada sekelompok kecil awak media ketika ditanya tentang sanksi China.

Ia mengatakan, AS berkewajiban berdasarkan hukum domestik untuk menyediakan senjata pertahanan diri ke Taiwan, sebuah negara demokrasi yang memerintah sendiri yang diklaim oleh Beijing.

China dalam beberapa bulan terakhir telah memasuki zona pertahanan udara Taiwan dengan frekuensi yang terus meningkat, sementara film propaganda telah menampilkan serangan simulasi.

"Keamanan Taiwan adalah pusat stabilitas di kawasan Indo-Pasifik," kata Cooper, menambahkan bahwa China telah lama memahami bahwa AS akan terus menjual senjata ke Taiwan.

"Provokasi yang datang dari Beijing - perilaku penindasan, seperti yang bisa dinilai - di situlah letak provokatornya, bukan dengan Taiwan yang mempertahankan pertahanannya sendiri," katanya.

"Jika ada, kami memastikan bahwa Taiwan tidak diganggu atau diatasi oleh Beijing," sambungnya.

Paman Sam hanya mengakui Beijing, yang menganggap Taiwan tempat para nasionalis China yang kalah melarikan diri pada tahun 1949  sebagai wilayah yang menunggu penyatuan kembali.

Namun pemerintahan Presiden Donald Trump semakin vokal dalam mendukung Taiwan, termasuk melalui dua kunjungan pejabat senior baru-baru ini.

Saingan Trump dalam Pilpres AS 2020, Joe Biden juga berjanji  baru-baru ini dalam sebuah opini di World Journal, surat kabar yang ditujukan untuk orang China-Amerika, untuk memperdalam hubungan dengan Taiwan.

Biden menyebut Taiwan sebagai demokrasi terkemuka, ekonomi utama, pembangkit tenaga teknologi, dan memuji keberhasilan luar biasa pulau itu dalam mencegah virus corona baru (COVID-19). (CNA/AFP)

FOLLOW US